Upaya Mengusir Sepi

Tak seperti kebanyakan orang di malam minggu. Tak ada kencan. Tak ada jalan-jalan dengan teman. Tak ada yang bisa diceritakan. Semua yang terjadi di kamar ini jika disaksikan seperti layaknya film di bioskop akan sangat membosankan. Tak ada yang menarik untuk dinikmati. Tak ada ciuman. Tak ada adegan ranjang. Tak ada perselingkuhan. Jika kau memang tak mengharapkan film semacam itu, ya sudahlah, memang sebaiknya kau tidak menontonnya. Atau jika kau menghendaki sebuah film komedi, dan kau lagi-lagi juga tidak akan mendapati hal-hal lucu seperti yang kau harapkan.

Seperti harapan saat kau ingin mendapatkan huruf ‘S’ dari permen karet Yosan. Kira-kira seperti itu harapan untuk menemukan kesenangan dari malam mingguku di dalam kamar. Mungkin untuk mendapatkan sedikit kesenangan itu-jika saja ada-dari keadaan ini, aku harus berusaha keras memutar otak sembari mengharap sebuah ide yang cemerlang muncul secara tiba-tiba dari lipatan-lipatan otakku. Sebagaimana dahulu ketika aku masih berusia anak-anak, tanpa berpikir panjang aku memborong berlusin-lusin permen karet Yosan untuk mengumpulkan huruf-huruf sialan yang terletak di balik bungkusnya. Dalam satu bungkus terdapat satu buah huruf. Ada huruf ‘Y’ yang paling gampang didapatkan. Lalu huruf ‘O’. Lalu ‘S’ yang sangat dinantikan akan tetapi jarang sekali ada. Dan dua huruf lainnya ‘A’ dan ‘N’. Bagi siapapun yang berhasil mengumpulkan kelimanya, maka orang tersebut dapat menukarkannya dengan hadiah dari perusahaan Yosan. Mendengar kata ‘hadiah’, anak-anak seusiaku dulu serentak kesetanan untuk memenangkan sayembara itu. Termasuk aku sendiri.

Beli, beli, beli dan terus membeli. Bersikeras untuk mendapatkan huruf ‘S’ memang membuatku tampak bodoh. Maklum, masih anak-anak. Lagipula, hal buruk yang didapat selain boros jajan hanyalah gigi susu yang jadi gigis. Bagian baiknya, anak-anak belajar berkomitmen demi tujuan yang ingin mereka raih.

Setelah aku pikir-pikir lagi, malam mingguku memang selalu seperti sekarang ini. Tak ada kencan. Wajar, aku tak punya orang spesial yang bisa kuajak kencan atau dia yang mengajakku. Tak ada jalan-jalan dengan teman. Wajar, karena hampir semua teman-temanku memiliki pacar untuk mengisi malam minggu masing-masing. Jadi, sebagai orang dengan keadaan seperti ini, harusnya aku memulai membiasakan diri. Toh, apa salahnya berdiam diri di dalam kamar. Aku bisa membaca artikel di internet mengingat aku tidak memiliki koleksi buku bacaan. Atau sekadar rebahan saja hingga jatuh hari baru. Sepertinya itu paling gampang dilakukan. Tidak perlu membuang-buang tenaga sehingga menunda rasa lapar dan juga lebih bisa menghemat kuota internet.

Aku jadi ingat kata salah satu temanku ketika ia baru saja dinyatakan tidak lolos ujian semester dan harus mengulanginya lagi tahun depannya. “Hidup itu jangan dipikir sulit. Sudah diatur. Jalani saja. Nikmati.” Katanya dengan sok bijak setelah kutanya keadaannya saat itu. Aku terkekeh. Aku tahu ia hanya sedang menghibur dirinya sendiri. Tapi jika dipikir-pikir lagi, mungkin memang ada benarnya. Nikmati saja. Nikmati seperti permen karet. Buka bungkusnya. Lesakkan ke mulut. Kunyah. Kunyah sampai hambar. Tiup bagai balon jika memang ingin meniupnya. Ditelan ke lambung juga terserah. Yang penting kita menikmatinya. Perkara nanti ususmu jadi kelet, itu urusan nanti.

Di kamar ini memang terasa sepi. Hanya ada aku. Pakaian. Buku-buku kuliah dan beberapa barang yang tak perlu kusebut satu-persatu. Jika dipikirkan lagi, bukankah suasana sepi cukup pantas untuk disyukuri. Sepi, tidak ada hal-hal bising. Tidak ada kelakar-kelakar manusia yang tidak perlu kudengar. Aku bisa lebih intens dengan pikiranku sendiri. Aku bisa bermonolog dengan tenang. Berdiri dengan tenang. Duduk dengan tenang. Rebahan dengan tenang. Dan yang terpenting, rasa tenang itu sendiri. Rasa sepi, barangkali adalah bentuk lain dari ketenangan itu sendiri. Atau paling tidak aku meyakininya demekian. Untukku sendiri. Untuk menghibur diriku sendiri. Kau bisa bayangkan berapa banyak orang yang rela menghambur-hamburkan uang demi mendapat ketenangan. Tidakkah itu lucu? Mereka menukar uang-uang mereka untuk membeli sepi. Mereka ke gunung. Masuk ke dalam hutan. Bahkan salah satu pariwisata paling ekstrem dan edan yang pernah kubaca di internet adalah berwisata ke bulan. Aku membayangkan jika saja di bulan ada sebuah kehidupan, kemudian kehidupan di sana yang semula sepi dan penuh ketenangan menjadi terganggu akibat proyek pariwisata ini lantas mereka berinisiatif untuk berwisata ke bumi. Sedangkan di bumi, kau tahu sendiri, mungkin makhluk bulan yang mencari ketenangan itu pantas menyabet gelar sebagai mahkluk termalang karena tidak bisa menemukan ketenangan yang ia cari setelah menempuh perjalanan penuh resiko dari bulan.

“Resiko?”

Astaga, aku jadi ingat artikel tentang resiko memelihara anak gajah sumatra di daerah padat penduduk yang harus kukirimkan ke rumah seorang editor yang berjarak lima rumah dari kosan yang kutempati. Aku yakin ini adalah artikel yang absurd meskipun aku sendiri belum membacanya. Teman sekamarku, sebut saja si C6 yang menulisnya dan tidak sempat mengirimkannya. Sebelum memintaiku untuk mengirimkan artikel ini, pacar kesayangan C6 menelpon. Saat itu aku sedang berusaha tidur. Lalu ketika C6 mengangkat panggilan itu, suara manja seorang cewek terdengar sedang memanggil namanya. Saat itu aku ingin sekali tidur. Namun karena obrolan mereka cukup menarik, aku putuskan untuk pura-pura tidur. Sebanyak yang bisa kucuri dari obrolan jarak jauh itu, mereka sedang merencanakan lokasi kencan dan menyusun beberapa agenda yang akan dilakukan. Ketika obrolan mereka selesai, C6 membangunkanku sekaligus memintaiku agar mengirimkan artikel yang baru saja diselesaikannya.

“Ntar kalau pak Edi menanyakanku, jawab saja sedang ada urusan mendadak,” kata C6 setelah meletakkan artikel miliknya di atas meja belajarku. Aku mengiyakan apa yang diperintahkannya lalu pura-pura kembali tidur. Melihatiku tak bereaksi lagi, C6 mulai mematut diri di depan kaca lalu beberapa menit kemudian meninggalakan kamar dengar bau parfum yang masih tertinggal.

“Astaga,”

Jam di gawaiku menunjukkan pukul 23:23 WIB. Lumayan larut tapi juga belum terlalu larut untuk mengantar artikel ini. ke rumah eharusnya aku tidak membiarkan otak sialan ini mengajakku berimajinasi mengenai hal-hal absurd dan mulai berhenti menghina diriku sendiri.Mungkin sudah saatnya aku berpikir ringan tanpa berimajinasi tentang ini dan itu. Langkah pertama adalah, tidak memikirkan apa-apa. Oke, aku akan bertanya pada mesin serba tahu dan tercanggih pada abad ini mengenai tiga hal yang bisa dilakulan ketika sepi. Dan saran terbaik yang aku terima adalah dengan memutar alunan musik agar telingaku penuh dengan suara-suara merdu sehingga moodku menjadi baik meskipun sedang dikerubungi sepi.

Dalam menanggapi saran terbaik-menurutku-dari mesin serba tahu dan tercanggih abad ini adalah, dengan memutar lantunan-lantunan musik terbaik sepanjang masa karya Ramin Djawadi. Dan sepertinya Bethoven mengutukiku dari akhirat sana karena aku menaruh namanya setelah Ramin Djawadi. Aku jadi penasaran jika saja mereka hidup semasa dan menggelar konser satu panggung yang aku yakin akan menjadi konser terbaik sepanjang masa. Dan mengenai sepanjang masa, aku punya versi tersendiri. Jika satu jam ke depan Ramin Djawadi terasa sudah membosankan, berarti masa terbaiknya sudah tidak berlaku. Yang perlu aku lakukan setelahnya adalah mengganti daftar lagu dari komposer-komposer lainnya dengan lagu-lagu yang kuanggap terbaik sepanjang masa sampai aku kembali bosan karenanya.

Sembari mendengarkan lantunan-lantunan ini, sebuah artikel dari sebuah blog memancing-mancingku untuk menyambanginya. Dalam judul yang ia tawarkan tertulis begini; Sendirian atau Kesepian? Betapa keparatnya mesin serba tahu ini, sampai ia mengetahui apa yang sedang aku rasakan dan tanpa berpikir panjang aku menurutinya sembari berharap sebuah saran yang cemerlang muncul dari paragraf-paragraf ini; aku yakin ditulis dari seorang  pengangguran sehingga ia sempat menulis tulisan semacam ini. Tak perlu menghabiskan banyak waktu tulisan ini akhirnya habis. Pada intinya si penulis ingin menyampaikan bahwa sendirian dan kesepian adalah dua hal yang berbeda. Sendirian adalah keadaan di mana hanya ada kau seorang dan kau belum tentu merasa sepi. Sedangkan kesepian adalah keadaan di mana kau merasa sepi meskipun kau sedang berada di keramaian dan dikerumuni banyak orang. Aku rasa ia ada benarnya dan mungkin ia pernah mengalami dua-duanya. Meskipun benar, ia tak memberikan solusi apapun dan ia membuatku menyia-nyiakan lima menit waktu berhargaku. Satu-satunya manfaat bagiku yaitu mengetahui bahwa aku adalah orang yang sedang sendirian dan dilanda kesepian.

“Sial!”

Aku berbaring di atas satu-satunya kasur yang  kumiliki sambil meregangkan tubuhku. Terasa nyaman pada tiap-tiap ruas tulang dan aku mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Sambil diiringi sepoi angin dari kipas angin pemberian ibu kos aku mulai merasakan kantuk yang kuharapkan datang sedari awal tadi. Aku lupa bagaimana ibu kos sampai memberiku kipas angin ini. Yang aku ingat, waktu itu aku terbaring di kamar dengan perban di kepala dan aku mendapati sepeda motor anaknya yang tergeletak di dekat kamar kosku.

Di tengah-tengah kantuk yang menyerangku sebuah cahaya terang menembus jendela kamarku bersamaan dengan desing mesin yang sama sekali asing di telingaku. Dalam keadaan tergagap kupaksakan tubuhku bangkit dan mencoba memastikan keadaan di luar. Seketika setelah kubuka pintu, sesosok mahluk bermata bulat besar dengan telinga seukuran bola pingpong dan janggut aneh menungguku di depan pintu.

“Menurut mesin serba tahu dan tercanggih yang kami miliki, Anda menyediakan tempat yang sedang kami butuhkan.” Kata Mahkluk itu tanpa mempedulikan rasa terkejutku dan juga taman bunga milik ibu kos yang ditimpa mesin aneh milik mahkluk yang tak kalah aneh ini.

“Apa maksudmu?”

Orang itu bercerita panjang lebar tentang banyak hal yang sama sekali asing dan sulit untuk kupahami. Aku tidak bisa tidak untuk tidak percaya bahwa benda asing dengan lampu yang menyilaukan mata, baru saja mendarat di halaman rumah ibu kos dan menerbangkan genteng-genteng rumahnya.